PERUBAHAN TINGKAH
LAKU
Makalah
Di ajukan sebagai
salah satu tugas mata kuliah komunikasi antar pribadi
Dosen Pengampu
munjiati saadah, S.Pd

Disusun oleh
kelompok VI
BK.Kls V B
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP)
MUHAMADIYAH PROPINGSI LAMPUN 2011
DAFTAR NAMA KELOMPOK
NAMA
|
NPM
|
TDD
|
TOMI RISADI
|
O9020127
|
|
ADI HERLAMBANG
|
100200161
|
|
AGUS SISWANTO
|
100200
|
KATA PENGANTAR
Puji syukur
dipanjatkan kehadirat allah SWT, atas berkah dan rahmatnya sarta ridho dan
karunia-Nya makalah Teknik Bimbingan dapat diselesaikan.
Makalah
ini disusun agar mahasiswa memperoleh wawasan yang komprehensif mengenai
hubungan dan proses konseling dan memperkokoh pemahaman tentang pentingnya
bimbingan dan konseling, mengedepankan perubahan paradigma berfikir dalam
mempersepsi konsep bimbingan dan konseling itu sendiri. Dalam kesempatan ini penyusun menyampaikan rasa terimakasih yang
sebesar-besarnya kepada:
1. Dr, Tri Yuni Hendowati, M.Pd selaku Ketua STKIP Muhammadiyah Pringsewu.
2. Munjiati
saadah.S.Pd selaku dosen pengampu mata kuliah ini.
Dalam
penyusunan makalah ini kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan, sehingga
masih jauh dari sempurna, untuk itu kritik dan saran yang membangun dari semua
pihak sangat diharapkan. Akhirnya semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita
semua.
Pringsewu,
5-12- 2011
Kelompok
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ........................................................................... i
DAFTAR NAMA KELOMPOK ....................................................... ii
KATA PENGANTAR ........................................................................ iii
DAFTAR ISI ........................................................................................ iv
BAB 1 PENDAHULUAN....................................................................
PROSEDUR
MENGANALISIS TINGKAH LAKU
1.
Pengertian tingkah
laku............................................................ 1
2.
Sifat-sifat prilaku....................................................................... 2
3.
Proses terjadinya
tingkah laku................................................. 3
4.
Analisis tentang
teori behavioralistik.......................................
5.
Cara mempertahankan
dan mengurangi prilaku .................
BAB II PEMBAHASAN
PERUBAHAN TINGKAH
LAKU MELALUI KONSELING
A.
Prinsip-prinsip
umum.........................................................
B.
Teknik-Teknik
khusus........................................................
C.
Mengakhiri
Pertemuan.......................................................
BAB III PENUTUP
A.
Kesimpulan................................................................................
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PROSEDUR MENGANALISIS TINGKAH
LAKU
1. Pengertian Tingkah Laku
Dalam sebuah buku yang berjudul “Perilaku Manusia” Drs. Leonard F.
Polhaupessy, Psi. menguraikan perilaku adalah sebuah gerakan yang dapat diamati
dari luar, seperti orang berjalan, naik sepeda, dan mengendarai motor atau
mobil. Untuk aktifitas ini mereka harus berbuat sesuatu, misalnya kaki yang
satu harus diletakkan pada kaki yang lain. Jelas, ini sebuah bentuk perilaku.
Cerita ini dari satu segi. Jika seseoang duduk diam dengan sebuah buku
ditangannya, ia dikatakan sedang berperilaku. Ia sedang membaca.
Sekalipun pengamatan dari luar sangat minimal, sebenarnya perilaku ada dibalik
tirai tubuh, didalam tubuh manusia.
Dalam buku lain diuraikan bahwa perilaku adalah suatu kegiatan atau
aktifitas organisme (makhluk hidup) yang bersangkutan. Oleh sebab itu, dari
sudut pandang biologis semua makhluk hidup mulai dari tumbuh-tumbuhan, binatang
sampai dengan manusia itu berperilaku, karena mereka mempunyai aktifitas
masing-masing. Sehingga yang dimaksud perilaku manusia, pada hakikatnya adalah
tindakan atau aktifitas manusia dari manusia itu sendiri yang mempunyai
bentangan yang sangat luas antara lain: berjalan, berbicara, tertawa, bekerja,
kuliah, menulis, membaca dan sebagainya. Dari uraian diatas dapat disimpulkan
bahwa yang dimaksud perilaku (manusia) adalah semua kegiatan atau aktifitas
manusia, baik yang dapat diamati langsung maupun yang tidak dapat diamati pihak
luar (Notoatmodjo 2003 hal 114). Skiner (1938) seorang ahli psikologi,
merumuskan bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap
stimulus (rangsangan dari luar). Oleh karena itu, perilaku ini terjadi melalui
proses adanya stimulus terhadap organisme, dan kemudian organisme tersebut
merespon, maka teori skiner disebut teori “S - O - R” atau Stimulus –
Organisme – Respon.
2. Sifat-Sifat Perilaku
Perilaku diatur oleh prinsip dasar perilaku yang menjelaskan bahwa ada
hubungan antara perilaku manusia dengan peristiwa lingkungan. Perubahan
perilaku dapat diciptakan dengan merubah peristiwa didalam lingkungan yang
menyebabkan perilaku tersebut dan dilihat dari bentuk respon terhadap stimulus
ini, maka perilaku dapat dibedakan menjadi dua sifat,yaitu :
a. Sifat Covert artinya perilaku yang
tertutup atau tersembunyi (hanya dapat diamati oleh orang yang melakukannya).
b. Sifat Overt artinya perilaku yang terbuka atau
nampak dan sudah jelas dalam bentuk tindakan atau praktek (practice) atau
dapat diamati dan dicatat.
Diatas telah dituliskan bahwa perilaku merupakan bentuk respon dari
stimulus (rangsangan dari luar). Hal ini berarti meskipun bentuk stimulusnya
sama namun bentuk respon akan berbeda dari setiap orang. Faktor factor yang
membedakan respon terhadap stimulus disebut determinan perilaku. Determinan
perilaku dapat dibedakan menjadi dua factor yaitu :
1. Faktor internal yaitu karakteristik
orang yang bersangkutan yang bersifat given atau bawaan misalnya :
tingkat kecerdasan, tingkat emosional, jenis kelamin, dan sebagainya.
2. Faktor eksternal yaitu lingkungan,
baik lingkungan fisik, fisik, ekonomi, politik, dan sebagainya. Faktor
lingkungan ini sering menjadi factor yang dominan yang mewarnai perilaku
seseorang. (Notoatmodjo, 2007 hal 139)
3.
Proses Terjadinya Perilaku
Penelitian Rogers (1974) mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi
perilaku baru (berperilaku baru), didalam diri orang tersebut terjadi proses
yang berurutan, yakni :
a.
Awareness (kesadaran), yakni orang tersebut
menyadari dalam arti mengetahui setimulus (objek) terlebih dahulu
b.
Interest, yakni orang mulai tertarik kepada
stimulus
c.
Evaluation (menimbang-nimbang baik dan
tidaknya stimulus bagi dirinya). Hal ini berarti sikap responden sudah lebih
baik lagi
d.
Trial, orang telah mulai mencoba perilaku
baru
e.
Adoption, subjek telah berperilaku baru
sesuai dengan pengetahuan, kesadaran, dan sikapnya terhadap
stimulus
Apabila penerimaan perilaku baru
atau adopsi perilaku melalui proses seperti ini didasari oleh pengetahuan,
kesadaran, dan sikap yang positif maka perilaku tersebut akan menjadi kebiasaan
atau bersifat langgeng (long lasting). Notoatmodjo, 2003 hal 122)
4. Analisis Tentang Teori
Behavioristik
Behavioristik atau Aliran Perilaku (juga disebut Perspektif Belajar) adalah
filosofi dalam psikologi yang berdasar pada proposisi bahwa semua yang dilakukan organisme
(termasuk tindakan, pikiran, atau perasaan) dapat dan harus dianggap sebagai
perilaku. Aliran ini berpendapat bahwa perilaku demikian dapat digambarkan
secara ilmiah tanpa melihat peristiwa fisiologis internal atau konstrak hipotetis seperti pikiran. Behaviorisme beranggapan
bahwa semua teori harus memiliki dasar yang bisa diamati tapi tidak ada
perbedaan antara proses yang dapat diamati secara publik (seperti tindakan)
dengan proses yang diamati secara pribadi (seperti pikiran dan perasaan).
Kaum behavioris menjelaskan bahwa belajar sebagai
suatu proses perubahan tingkah laku dimana reinforcement dan punishment
menjadi stimulus untuk merangsang pebelajar dalam berperilaku. Pendidik yang
masih menggunakan kerangka behavioristik biasanya merencanakan kurikulum dengan
menyusun isi pengetahuan menjadi bagian-bagian kecil yang ditandai dengan suatu
keterampilan tertentu. Kemudian, bagian-bagian tersebut disusun secara hirarki,
dari yang sederhana sampai yang komplek (Paul, 1997).
Pandangan teori behavioristik telah cukup lama
dianut oleh para pendidik. Namun dari semua teori yang ada, teori Skinnerlah
yang paling besar pengaruhnya terhadap perkembangan teori belajar
behavioristik. Program-program pembelajaran seperti Teaching Machine,
Pembelajaran berprogram, modul dan program-program pembelajaran lain yang
berpijak pada konsep hubungan stimulus-respons serta mementingkan faktor-faktor
penguat (reinforcement), merupakan program pembelajaran yang menerapkan
teori belajar yang dikemukakan Skiner.
Teori behavioristik banyak dikritik karena
seringkali tidak mampu menjelaskan situasi belajar yang kompleks, sebab banyak
variabel atau hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan dan/atau belajar yang
dapat diubah menjadi sekedar hubungan stimulus dan respon. Teori ini tidak
mampu menjelaskan penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dalam hubungan
stimulus dan respon.
Teori behavioristik juga cenderung mengarahkan
pebelajar untuk berfikir linier, konvergen, tidak kreatif dan tidak produktif.
Pandangan teori ini bahwa belajar merupakan proses pembentukan atau shaping,
yaitu membawa pebelajar menuju atau mencapai target tertentu, sehingga
menjadikan peserta didik tidak bebas berkreasi dan berimajinasi. Padahal banyak
faktor yang mempengaruhi proses belajar, proses belajar tidak sekedar
pembentukan atau shaping.
Skinner dan tokoh-tokoh lain pendukung teori
behavioristik memang tidak menganjurkan digunakannya hukuman dalam kegiatan
pembelajaran. Namun apa yang mereka sebut dengan penguat negatif (negative
reinforcement) cenderung membatasi pebelajar untuk berpikir dan
berimajinasi.
Menurut Guthrie hukuman memegang peranan penting
dalam proses belajar. Namun ada beberapa alasan mengapa Skinner tidak
sependapat dengan Guthrie, yaitu:
·
Pengaruh
hukuman terhadap perubahan tingkah laku sangat bersifat sementara;
·
Dampak
psikologis yang buruk mungkin akan terkondisi (menjadi bagian dari jiwa si
terhukum) bila hukuman berlangsung lama;
·
Hukuman yang
mendorong si terhukum untuk mencari cara lain (meskipun salah dan buruk) agar
ia terbebas dari hukuman. Dengan kata lain, hukuman dapat mendorong si terhukum
melakukan hal-hal lain yang kadangkala lebih buruk daripada kesalahan yang
diperbuatnya.
Skinner lebih percaya kepada apa yang disebut
sebagai penguat negatif. Penguat negatif tidak sama dengan hukuman.
Ketidaksamaannya terletak pada bila hukuman harus diberikan (sebagai stimulus)
agar respon yang muncul berbeda dengan respon yang sudah ada, sedangkan penguat
negatif (sebagai stimulus) harus dikurangi agar respon yang sama menjadi
semakin kuat. Misalnya, seorang pebelajar perlu dihukum karena melakukan
kesalahan. Jika pebelajar tersebut masih saja melakukan kesalahan, maka hukuman
harus ditambahkan. Tetapi jika sesuatu tidak mengenakkan pebelajar (sehingga ia
melakukan kesalahan) dikurangi (bukan malah ditambah) dan pengurangan ini
mendorong pebelajar untuk memperbaiki kesalahannya, maka inilah yang disebut
penguatan negatif. Lawan dari penguatan negatif adalah penguatan positif (positive
reinforcement). Keduanya bertujuan untuk memperkuat respon. Namun bedanya
adalah penguat positif menambah, sedangkan penguat negatif adalah mengurangi
agar memperkuat respons.
5.
Cara-cara Mempertahankan dan Mengurangi Perilaku
1.
Cara Mempertahankan perilaku yang
diharapkan :
a.
Melalui penguatan intrinsik.
Caranya: sering melibatkan siswa pada kegiatan yang menyenangkan dan memberikan
kepuasan dalam kaitannya dengan perilaku positif yang akan dipertahankan.
b.
Penguatan intermitten. Seperti
disebutkan bahwa perilaku yang diharapkan frekuensinya akan meningkat dengan
cepat apabila diberi penguat setiap kali perilaku tersebut muncul. Apabila
munculnya perilaku tersebut sudah teratur, maka pemberian penguat dikurangi,
yaitu pada kondisi tertentu saja.
1.
Cara mengurangi
perilaku yang tidak diharapkan, antara lain :
a.
Extinction. Jangan memberikan penguat apapun
terhadap perilaku yang tidak diharapkan.
b.
Cueing. Menggunakan bahasa isyarat seperti
kontak mata, menaikkan alis mata, mendekati meja siswa dan berhenti di sana
sampai perilaku yang tak diharapkan berhenti.
c.
Punishment. Ada pendapat bahwa hukuman tidak
dapat menghentikan perilaku yang tidak diharapkan. Namun demikian kalau guru
dapat menggunakan instrumen hukuman secara tepat maka hukuman tetap berguna.
Bentuk hukuman yang efektif :
1.
Mencela secara verbal singkat, saat
itu juga, tanpa emosi, suara rendah, langsung mendekati siswa
2.
Memberi denda
3.
memberikan konsekuensi logis
4.
Time out, menempatkan siswa pada
situasi yang membosankan
5.
Mengasingkan siswa ditempat tertentu
sampai waktu yang ditentukan
Bentuk hukuman tidak efektif :
1. Hukuman fisik
2. Hukuman psikologis
3. PR berlebihan
4. Skorsing
BAB II
PERUBAHAN
TINGKAH LAKU MELALUI KONSELING
A.Prinsip-prinsip umum
Prinsip-prinsip umum itu berguna dalam membantu konseli
untuk berubah.tetapi perlu di lengkapi dengan teknik-teknik tertentu serperti:
1. Merumuskan
Tujuan
Sebagian konseli meengemukakan tujuan yang ingin di capainya
dengan pengertian-pengertian umum yang kurang jelas,Dalam konseling untuk
mengubah tingkah laku tugas konselor adalah
A. Berusaha
agar konseli mampu mengemukakan tujuan-tujuannya secara jelas dan khusus.
Konselor dapat melakukan ini dengan menjabarkan tujuan-tujuan
umum ke dalam tujuan yang lebih kecil yang lebih dapat di jangkau,membuat
rencana langkah-langkah yang praktis .
Salah satu
teknik yang dapat di gunaklan untuk membantu konseli merumuskan tujuannya
adalah mendorongnya untuk memikirkanya beberapa cara kemungkinan untuk
bertindak dan bertingkah laku.Hal ini mengajak konseli untuk lebih bersikap
praktis .Umpamanya,konselor menanyakan ,”Apakah yang ingin anda lakukan jika
anda ingin mengubah tingkah laku anda ?atau “anda merasa kecewa terhadap cara
anak-anak anda bereaksi terhadap anda,
2. Menuguhakan
Hasrat Untuk Melakukan Sesuatu
Keinginan yang kuat dari konseli untuk mengubah tingkah lakunya adalah satu faktor
penting dalm konseling.Yang paling penting iyalah jika konsele memilih dan
menetapkan sendiri tujuan yang ingin di capainya akan memungkinkan dia mau
bekerja keras untuk mencapai tujuan tersebut.Bagi konselor yang telah
mengembangkan hubungan kerja yang baik dengan konseli tidak perlu merasa
ragu-ragu memberikan saran –saran sebagai suatu usaha untuk meningkatkan cara
berpikirnya. Dia harus memastikan bahwa dia berjanji dengan sungguh-sungguh
kepada dirinya sendiri untuk mencapai tujuan yang di inginkannya.
Dan dengan demikian dia pula menerima tanggung
jawab.
Konselor hendaknya memberikan perhatian
sepenuhnya terhadap usaha meneguhkan janji konseli pada dirinya
sendiri,Keterampilan mengarahkan di perlukan untuk meyakinkan konsele ang mudah
putus asa dan menampakan sikap membiarkan dirinya sendiri menjadi korban
itu,Tanpa terlalu mendesak konselor hendaknya dapat memberikan suatu contoh
yang telah di pilih dengan seksama menggunakan bahasa sehari-hari menyebukan bagian-bagian secara
yang kelihatannya dekat dengan konseli.
3. Menghadapi
Apa yang akan terjadi
Setelah konseli menjadi teguh dengan hasrat untuk mencapai tujuan khusus
tertentu,Tugas konselor selanjutnya adalah membantu konseli membuat rencana
yang mantap tentang bagaimana ,kapan,dan di man proses pengubahan tingkah laku
akan benar-benar di mulai.Konseli harus di sadarkan bahwa banyak faktor yang
ikut mempengaruhi keberhasilan usahanya,Salah satu faktor yang perlu di ingat
adalah pentingnya melaksanakan kegiatan hanya pada suasana yang benar-benar
mengandung kemungkinan keberhasilan yang besar.
Segala sesuatunya harus direncanakan dengan hati-hati.Konseli harus di
bantu untuk memilih waktu yang tepat yang sebaiknya untuk memulai kegiatan,memutuskan
dengan tepat apa yang hendak dikatakan dan di pebuat ,membayangkan
keinginan-keinginannya yang menyangkut perasaan dan kesan-kesannya.
Konselor juga hendaknya berusaha meningkatkan
yang berat sekalipun,Kemungkinan kegagalan juga harus didiskusikan karena tidak
mungkin bagi konselor untuk menjamin keberhasilan dari apa yang di rencanakan
itu.Di samping penekanan di letakkan pada aspek-aspek positif dan perencanaan
untuk keberhasilan,konseli hendaknya juga di dorong untuk memikirkan bahwa
kalaupun dia menemui kegagalan hal itu tidaklah akan merugikan bagi dirinya.melainkan
sebagai peringatan untuk membuat rencana-rencana yang lebih baik yang akan di
laksanaka pada kesempatan berikutnya.
4. Menilai
Hasil
Segera
sesudah konseli melaksanakan rencana pengubahan tingkah lakunya konselor
hendaklah membicarakan pengalaman itu dengan konseli,Faktor-faktor yang ikut
memberikan andil terhadap keberhasilan yang dicapai hendaknya di kenali supaya
konseli merasa tergugah untuk melakukannya lagi.
5. Membuat
Catatan
Membuat catatan merupakan suatu usaha sederhana
tetapi sangat penting karena kegiatan ini mempunyai andil besar di dalam
rencana pengubahan tingkah laku.
Konseli yang merasa dia belum banyak melakukan
hal-hal yang di inginkan perlu di dorong untuk mencatat kegiatan harinyanya di
dalam sebuah buku harian.
Orang tua yang mengeluh tingkah laku anak-anaknya,atau guru
yang di pusingkan oleh murid-muridnya yang sukar di atur,perlu di bantu untuk
mengorganisasikan suatu sistem pencatatan yang dapat merekam apa yang terjadi
sebelumnya dan sesudah berlangsungnya suatu peristiwa,dan bagaimana seringnya
peristiwa itu terjadi.
B. TEKNIK-TEKNIK KHUSUS
Seringkali konselor sering membantu konseli untuk mencobakan
beberapa cara bertingkah laku .
Hal ini dapat di lakukan dengan berbicara dengan konseli dan
dapat juga dengan mengajarkan kepadanya tingkah-tingkah laku baru yang dapat di
latihakan selama konseling dan dalam kegiatan sehari-hari.
1.Menggunakan Ganjaran
Banyak perhatian di tunjukan untuk mengungkapkan cara-cara
merubah tingkah laku orang dalam berbagai suasana dengan cara sistematik
mengubah hubungan (asosiasi)antara suasana (kejadian) dan tingkah laku
tertentu.Istilah umum yang di oakai untuk cara pengubahan tingkah laku seperti
ini ialah penguatan yang menunjuk cara dalam seseorang dapat menningkakatkan
atau mengurangi kemungkinan terjadinya perubahan –perubahan tertentu .Sebagaimana
kaedah umum,tingkah laku yang secara tetap dan segara diikuti oleh pengalaman-pengalaman
yang menyanangkan cenderung untuk diulangi.Tingkah laku seperti itu dikatakan
diganjari untuk dikuatkan secara positif.Pada sisi lain,tingkah laku yang di
abaikan atu di ikuti oleh hal-hal yang tidak menyanangkan cenderung berkurang
kemungkinan untuk di ulangi.
Konselor harus bisa membantu konseli merencanakan perubahan
tertentu berdasarkan atas hasil pengamatan yang cermat.penggabungan antara
pengganjaran tingkah laku yang di inginkan dan pengabaian tingkah laku yang
tidak sesuai merupakan cara yang sangatampuh,walaupun hal itu mungkin tidak
cocok bagi setiap masalah.Namun cara ini telah di capai secara luas :masalah
yang muncul dalam kelompok,hubungan keluarga,dan dalam suasana pengawasan dan
latiha serinkali dapat di atasi dengan pengubahan penguatan tertetu.
Teknik-teknik yang di gunakan dalam memulai dan
mengembangkan tahap-tahap konseling kebanyakan mengandung aspek-aspek ganjaran.
Teknik
konseling sederhana yang mengandung komponen-komponen ganjaran yang kuat
merupekan keterampilan yang tepat untuk mengganjar konseli tertentu.Misalnya
konseli yang kurang pandai menyelenggarakan pembicaraan sengan orang lain(dapat
di ajar konselor)bagimana memperhatikan pembicaraan orang lain,Jika di gunakan
dalam suasana hubungan sosial maka keterampilan memperhatikan pembicaraan orang
lain ini berlaku sebagai ganjaran bagi seorang pembicara yang di tugaskan untuk
memberikan tanggapan terhadap pembicara lainnya.konseli hendaknya didorong
untuk berlatih sendiri untuk dapat mempunyai keterampilan seperti itu dan
melaporkan(kepada konselor)hasil yang di capainya.Demikianlah,keterampilan
memberikan tanggapan dalam pembicaraan dapat bernilai sebagai
keterampilan-keterampilaan sosial pada umumnnya.
2. Memberikan
Contoh
Konselor perlu memberikan contoh atau pola
tingkah laku yang baik untuk konseli yang tidak mengetahui bagaimana bertindak
dalam suasana tertentu.Dlam hal ini pemberian contoh pada umumnya ditampilkan
dalam 2 cara :yaitu onselor sendiri dapat bertindak sebagai model atau seorang
kawan(dari konseli)dapat bertindak sebagai model dalam kehidupan konseli
sehari-hari.
Beberapa prinsp pemberian contoh yang efektif
dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Suruh
konseli bagaimana biasanya dia bertindak dan berbuat.
2. Pertunjukan
cara-cara bertindak yang lebih efektif.
3. Pisahkan
bagian-bagian itu untuk diamati,didiskusikan dan dipraktekan.
4. Ulangi lahi
mempertunjukan beberapa kali melebih lebihkan (menekankan)bagian-bagian yang
menyababkan kesulitan.
5. Suruh
konseli melakukan lagi tingkah laku yang sudah diamatinya.Berikan balikan yang
berguna bagi konseli.
6. Lanjutkan
terus melakukan tingkah laku itu berulang-ulang semapai di capai atau tingkah laku yang seharusnya.
3. Bermain
Peran
Bermain peran adalah memerankan cara seseorang
bertingkah laku dalm suatu jabatan atu fungsi tertentu.
4. Kesadaran
Bdaniah ,Latihan Penenangan ,dan Gerak Badan
Sebagai bagian dari proses pengubahan tingakah
laku adalah sangat membantu bila orang yang bersangkutan,lebih sadar dan dapat
mengendalikan kesan-kesan badaniah.Kesadaran yang dipertinggi dapat membantu
konseli mengenali perasan-perasaannya secara lebih tepat.Ambillah misalnya
seorang konseli merasa kekanak-kanakan
atau kalau berbicara merendahkan diri.
5. Memikirkan
dan Membayangkan Sesuatu
Salah satu keterampilan yang penting dalam
konseling adalah bagaimana konseling dapat bekerja secara baik dengan kegiatan
mental konseli. Pikiran, ide, dan penghayatan konseli jelaslah amat penting
dalam keseluruhan upaya konseling. Salah satu contoh yang baik tentang
penggunaan kegiatan “membayangkan sesuatu” adalah dalam latihan penenangan.
6. Desensititasi
Penderkatan ini dimaksudkan untuk mengubah
tingkah laku melalui perpaduan beberapa teknik yang terdiri dari memikirkan
sesuatu. Menenangkan diri dan membayangkan sesuatu. Dalam hal ini konselor
berusaha memberikan suntikan bagi konseli untuk menanggulangi kekuatan ataupun
kebimbangan yang mendalam dalam suasana tertentu. Konselor melakukan teknik ini
dengan memanfaatkan ketenangan jasmaniah konseli untuk melawan ketegangn
jasmaniah yang timbul bila konseli berada pada suasana yang menakutkan atau
menegangkan.
7. Memadukan
berbagai strategi
Desensititasi merupakan teknik yang melibatkan
beberapa keterampilan konseling. Jika konselor telah menguasai secara
terpisah-pisah keterampilan konseling dan proses pengubahan, konselor diminta
untuk memadukan bila hal itu merasa cocok.
C. Mengakhiri Pertemuan
Konselor hendaknya selalu menyadari bahwa
mengakhiri suatu hubungan konseling dengan melalui alih tangan atau
penghentaian layanan memerlukan prosedur dan pemenuhan persaratan tertentu.
1. Alih tangan
(referal)
Jika konselor memutuskan bahwa konselingnya memiliiki kebutuhan-kebutuhan
yang tidak dapat dipenuhi oleh konselor, maka konselor harus mempertimbangkan
unuk mengalih tangan konseli kepada orang atau badan lain
2. Penghentian
Layanan
Penghentian layanan (terminasi) pada setiap waktu terutama bilamana
tujuan-tujuan hubungan konseling telah tercapai. Penghentian juga dapat dilakukan
berdasarkan persetujuan yang telah ditetapkan pada permulaan pertemuan, yaitu
setelah pembebasan suatu atau beberapa pokok masalkah atau setelah beberapa
kali pertemuan. Disamping memperkirakan kemampuan konseli untuk mengatasi
masalahnya sendiri, konselor hendaknya mengnali reaksi-reaksinya sendiri.
BAB III
PENUTUP
A.Kesimpulan
Dari pembasahan di atas bahwa dalam penanganan konseli itu mempunyai
beberapa teknik dan setiap teknik mempunyai fungsi masing-masing dalam
pengubahan tingkah laku klien .konselor dalam mengubah tingkah laku klien ia
harus mempunyai suatu kesabaran dan keahlian khusus.dan ia juga harus mempunyai
suatu ide-ide yang dapat membantu perkembangan kliennya.
DAFTAR PUSTAKA
Mulyana,Deddy,M.A.PhD.ilmu komunikasi.Penerbit
Remaja Rosdakarya Bandung.
W.S.Winkel dan Sri Hastuti.Bimbingan dan Konseling
di insitusi kepenidikan .Penerbit Media Abadi Yokyakarta.
Supratiknya
A,Drs .Komunikasi Antar Pribadi.
Penerbit Kanisius Badung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar