Senin, 12 Maret 2012

bk stkip pringsewu makalah hubungan dan proses konseling


PERUBAHAN TINGKAH LAKU
Makalah

Di ajukan sebagai salah satu tugas mata kuliah komunikasi antar pribadi
Dosen Pengampu munjiati saadah, S.Pd








Disusun oleh kelompok VI
BK.Kls V B

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP) MUHAMADIYAH PROPINGSI LAMPUN            2011







DAFTAR NAMA KELOMPOK
NAMA
NPM
TDD
TOMI RISADI
O9020127

ADI HERLAMBANG
100200161

AGUS SISWANTO
100200






















KATA PENGANTAR

Puji syukur dipanjatkan kehadirat allah SWT, atas berkah dan rahmatnya sarta ridho dan karunia-Nya makalah Teknik Bimbingan dapat diselesaikan.
Makalah ini disusun agar mahasiswa memperoleh wawasan yang komprehensif mengenai hubungan dan proses konseling dan memperkokoh pemahaman tentang pentingnya bimbingan dan konseling, mengedepankan perubahan paradigma berfikir dalam mempersepsi konsep bimbingan dan konseling itu sendiri. Dalam kesempatan ini penyusun menyampaikan rasa terimakasih yang sebesar-besarnya kepada:

1.      Dr, Tri Yuni Hendowati, M.Pd selaku Ketua STKIP Muhammadiyah Pringsewu.
2.      Munjiati saadah.S.Pd selaku dosen pengampu mata kuliah ini.

Dalam penyusunan makalah ini kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan, sehingga masih jauh dari sempurna, untuk itu kritik dan saran yang membangun dari semua pihak sangat diharapkan. Akhirnya semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.


                                                                                                           
                                                                                    Pringsewu, 5-12- 2011
                                                                                   


                                                                                    Kelompok









DAFTAR ISI



HALAMAN JUDUL ...........................................................................   i
DAFTAR NAMA KELOMPOK .......................................................   ii
KATA PENGANTAR ........................................................................   iii
DAFTAR ISI ........................................................................................   iv 

BAB 1 PENDAHULUAN....................................................................
PROSEDUR MENGANALISIS TINGKAH LAKU
1.      Pengertian tingkah laku............................................................ 1
2.      Sifat-sifat prilaku....................................................................... 2
3.      Proses terjadinya tingkah laku................................................. 3
4.      Analisis tentang teori behavioralistik.......................................
5.      Cara mempertahankan dan mengurangi prilaku .................
BAB II PEMBAHASAN
PERUBAHAN TINGKAH LAKU MELALUI KONSELING
A.    Prinsip-prinsip umum.........................................................
B.     Teknik-Teknik khusus........................................................
C.    Mengakhiri Pertemuan.......................................................

BAB III  PENUTUP
A.    Kesimpulan................................................................................


DAFTAR PUSTAKA







BAB I
PROSEDUR MENGANALISIS TINGKAH LAKU

         1.     Pengertian Tingkah Laku
Dalam sebuah buku yang berjudul “Perilaku Manusia” Drs. Leonard F. Polhaupessy, Psi. menguraikan perilaku adalah sebuah gerakan yang dapat diamati dari luar, seperti orang berjalan, naik sepeda, dan mengendarai motor atau mobil. Untuk aktifitas ini mereka harus berbuat sesuatu, misalnya kaki yang satu harus diletakkan pada kaki yang lain. Jelas, ini sebuah bentuk perilaku. Cerita ini dari satu segi. Jika seseoang duduk diam dengan sebuah buku ditangannya, ia dikatakan sedang berperilaku.  Ia sedang membaca. Sekalipun pengamatan dari luar sangat minimal, sebenarnya perilaku ada dibalik tirai tubuh, didalam tubuh manusia.
Dalam buku lain diuraikan bahwa perilaku adalah suatu kegiatan atau aktifitas organisme (makhluk hidup) yang bersangkutan. Oleh sebab itu, dari sudut pandang biologis semua makhluk hidup mulai dari tumbuh-tumbuhan, binatang sampai dengan manusia itu berperilaku, karena mereka mempunyai aktifitas masing-masing. Sehingga yang dimaksud perilaku manusia, pada hakikatnya adalah tindakan atau aktifitas manusia dari manusia itu sendiri yang mempunyai bentangan yang sangat luas antara lain: berjalan, berbicara, tertawa, bekerja, kuliah, menulis, membaca dan sebagainya. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud perilaku (manusia) adalah semua kegiatan atau aktifitas manusia, baik yang dapat diamati langsung maupun yang tidak dapat diamati pihak luar (Notoatmodjo 2003 hal  114). Skiner (1938) seorang ahli psikologi, merumuskan bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar). Oleh karena itu, perilaku ini terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap organisme, dan kemudian organisme tersebut merespon, maka teori skiner disebut teori “S - O - R” atau Stimulus – Organisme – Respon.

            2.        Sifat-Sifat Perilaku
Perilaku diatur oleh prinsip dasar perilaku yang menjelaskan bahwa ada hubungan antara perilaku manusia dengan peristiwa lingkungan. Perubahan perilaku dapat diciptakan dengan merubah peristiwa didalam lingkungan yang menyebabkan perilaku tersebut dan dilihat dari bentuk respon terhadap stimulus ini, maka perilaku dapat dibedakan menjadi dua sifat,yaitu :
          a.    Sifat Covert artinya perilaku yang tertutup atau tersembunyi (hanya dapat diamati oleh orang yang melakukannya).
          b.     Sifat Overt artinya perilaku yang terbuka atau nampak dan sudah jelas dalam bentuk tindakan atau praktek (practice) atau dapat diamati dan dicatat.
Diatas telah dituliskan bahwa perilaku merupakan bentuk respon dari stimulus (rangsangan dari luar). Hal ini berarti meskipun bentuk stimulusnya sama namun bentuk respon akan berbeda dari setiap orang. Faktor factor yang membedakan respon terhadap stimulus disebut determinan perilaku. Determinan perilaku dapat dibedakan menjadi dua factor yaitu :
         1.      Faktor internal yaitu karakteristik orang yang bersangkutan yang bersifat given atau bawaan misalnya : tingkat kecerdasan, tingkat emosional, jenis kelamin, dan sebagainya.
         2.      Faktor eksternal yaitu lingkungan, baik lingkungan fisik, fisik, ekonomi, politik, dan sebagainya. Faktor lingkungan ini sering menjadi factor yang dominan yang mewarnai perilaku seseorang. (Notoatmodjo, 2007 hal 139)

            3.       Proses Terjadinya Perilaku
Penelitian Rogers (1974) mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru (berperilaku baru), didalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan, yakni :
         a.      Awareness (kesadaran), yakni orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui setimulus (objek) terlebih dahulu
        b.      Interest, yakni orang mulai tertarik kepada stimulus
        c.      Evaluation (menimbang-nimbang baik dan tidaknya stimulus bagi dirinya). Hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik lagi
        d.      Trial, orang telah mulai mencoba perilaku baru
        e.      Adoption, subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran, dan                       sikapnya terhadap stimulus
Apabila penerimaan perilaku baru atau adopsi perilaku melalui proses seperti ini didasari oleh pengetahuan, kesadaran, dan sikap yang positif maka perilaku tersebut akan menjadi kebiasaan atau bersifat langgeng (long lasting). Notoatmodjo, 2003 hal 122)

           4.      Analisis Tentang Teori Behavioristik
Behavioristik atau Aliran Perilaku (juga disebut Perspektif Belajar) adalah filosofi dalam psikologi yang berdasar pada proposisi bahwa semua yang dilakukan organisme (termasuk tindakan, pikiran, atau perasaan) dapat dan harus dianggap sebagai perilaku. Aliran ini berpendapat bahwa perilaku demikian dapat digambarkan secara ilmiah tanpa melihat peristiwa fisiologis internal atau konstrak hipotetis seperti pikiran. Behaviorisme beranggapan bahwa semua teori harus memiliki dasar yang bisa diamati tapi tidak ada perbedaan antara proses yang dapat diamati secara publik (seperti tindakan) dengan proses yang diamati secara pribadi (seperti pikiran dan perasaan).
Kaum behavioris menjelaskan bahwa belajar sebagai suatu proses perubahan tingkah laku dimana reinforcement dan punishment menjadi stimulus untuk merangsang pebelajar dalam berperilaku. Pendidik yang masih menggunakan kerangka behavioristik biasanya merencanakan kurikulum dengan menyusun isi pengetahuan menjadi bagian-bagian kecil yang ditandai dengan suatu keterampilan tertentu. Kemudian, bagian-bagian tersebut disusun secara hirarki, dari yang sederhana sampai yang komplek (Paul, 1997).
Pandangan teori behavioristik telah cukup lama dianut oleh para pendidik. Namun dari semua teori yang ada, teori Skinnerlah yang paling besar pengaruhnya terhadap perkembangan teori belajar behavioristik. Program-program pembelajaran seperti Teaching Machine, Pembelajaran berprogram, modul dan program-program pembelajaran lain yang berpijak pada konsep hubungan stimulus-respons serta mementingkan faktor-faktor penguat (reinforcement), merupakan program pembelajaran yang menerapkan teori belajar yang dikemukakan Skiner.
Teori behavioristik banyak dikritik karena seringkali tidak mampu menjelaskan situasi belajar yang kompleks, sebab banyak variabel atau hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan dan/atau belajar yang dapat diubah menjadi sekedar hubungan stimulus dan respon. Teori ini tidak mampu menjelaskan penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dalam hubungan stimulus dan respon.
Teori behavioristik juga cenderung mengarahkan pebelajar untuk berfikir linier, konvergen, tidak kreatif dan tidak produktif. Pandangan teori ini bahwa belajar merupakan proses pembentukan atau shaping, yaitu membawa pebelajar menuju atau mencapai target tertentu, sehingga menjadikan peserta didik tidak bebas berkreasi dan berimajinasi. Padahal banyak faktor yang mempengaruhi proses belajar, proses belajar tidak sekedar pembentukan atau shaping.
Skinner dan tokoh-tokoh lain pendukung teori behavioristik memang tidak menganjurkan digunakannya hukuman dalam kegiatan pembelajaran. Namun apa yang mereka sebut dengan penguat negatif (negative reinforcement) cenderung membatasi pebelajar untuk berpikir dan berimajinasi.
Menurut Guthrie hukuman memegang peranan penting dalam proses belajar. Namun ada beberapa alasan mengapa Skinner tidak sependapat dengan Guthrie, yaitu:
       ·       Pengaruh hukuman terhadap perubahan tingkah laku sangat bersifat sementara;
       ·       Dampak psikologis yang buruk mungkin akan terkondisi (menjadi bagian dari jiwa si terhukum) bila hukuman berlangsung lama;
       ·       Hukuman yang mendorong si terhukum untuk mencari cara lain (meskipun salah dan buruk) agar ia terbebas dari hukuman. Dengan kata lain, hukuman dapat mendorong si terhukum melakukan hal-hal lain yang kadangkala lebih buruk daripada kesalahan yang diperbuatnya.
Skinner lebih percaya kepada apa yang disebut sebagai penguat negatif. Penguat negatif tidak sama dengan hukuman. Ketidaksamaannya terletak pada bila hukuman harus diberikan (sebagai stimulus) agar respon yang muncul berbeda dengan respon yang sudah ada, sedangkan penguat negatif (sebagai stimulus) harus dikurangi agar respon yang sama menjadi semakin kuat. Misalnya, seorang pebelajar perlu dihukum karena melakukan kesalahan. Jika pebelajar tersebut masih saja melakukan kesalahan, maka hukuman harus ditambahkan. Tetapi jika sesuatu tidak mengenakkan pebelajar (sehingga ia melakukan kesalahan) dikurangi (bukan malah ditambah) dan pengurangan ini mendorong pebelajar untuk memperbaiki kesalahannya, maka inilah yang disebut penguatan negatif. Lawan dari penguatan negatif adalah penguatan positif (positive reinforcement). Keduanya bertujuan untuk memperkuat respon. Namun bedanya adalah penguat positif menambah, sedangkan penguat negatif adalah mengurangi agar memperkuat respons.

          5.       Cara-cara Mempertahankan dan Mengurangi Perilaku

         1.         Cara Mempertahankan perilaku yang diharapkan :
           a.      Melalui penguatan intrinsik. Caranya: sering melibatkan siswa pada kegiatan yang menyenangkan dan memberikan kepuasan dalam kaitannya dengan perilaku positif yang akan dipertahankan.
           b.      Penguatan intermitten. Seperti disebutkan bahwa perilaku yang diharapkan frekuensinya akan meningkat dengan cepat apabila diberi penguat setiap kali perilaku tersebut muncul. Apabila munculnya perilaku tersebut sudah teratur, maka pemberian penguat dikurangi, yaitu pada kondisi tertentu saja.
           1.         Cara mengurangi perilaku yang tidak diharapkan, antara lain :
         a.      Extinction. Jangan memberikan penguat apapun terhadap perilaku yang tidak diharapkan.
        b.      Cueing. Menggunakan bahasa isyarat seperti kontak mata, menaikkan alis mata, mendekati meja siswa dan berhenti di sana sampai perilaku yang tak diharapkan berhenti.
         c.       Punishment. Ada pendapat bahwa hukuman tidak dapat menghentikan perilaku yang tidak diharapkan. Namun demikian kalau guru dapat menggunakan instrumen hukuman secara tepat maka hukuman tetap berguna.
Bentuk hukuman yang efektif :
           1.      Mencela secara verbal singkat, saat itu juga, tanpa emosi, suara rendah, langsung mendekati siswa
           2.      Memberi denda
           3.      memberikan konsekuensi logis
           4.      Time out, menempatkan siswa pada situasi yang membosankan
           5.      Mengasingkan siswa ditempat tertentu sampai waktu yang ditentukan
Bentuk hukuman tidak efektif :
         1.    Hukuman fisik
         2.    Hukuman psikologis
         3.    PR berlebihan
        4.    Skorsing




BAB II
PERUBAHAN TINGKAH LAKU MELALUI KONSELING
A.Prinsip-prinsip umum
Prinsip-prinsip umum itu berguna dalam membantu konseli untuk berubah.tetapi perlu di lengkapi dengan teknik-teknik tertentu serperti:
1.       Merumuskan Tujuan
Sebagian konseli meengemukakan tujuan yang ingin di capainya dengan pengertian-pengertian umum yang kurang jelas,Dalam konseling untuk mengubah tingkah laku tugas konselor adalah
A.      Berusaha agar konseli mampu mengemukakan tujuan-tujuannya secara jelas dan khusus.
Konselor dapat melakukan ini dengan menjabarkan tujuan-tujuan umum ke dalam tujuan yang lebih kecil yang lebih dapat di jangkau,membuat rencana  langkah-langkah yang praktis .
        Salah satu teknik yang dapat di gunaklan untuk membantu konseli merumuskan tujuannya adalah mendorongnya untuk memikirkanya beberapa cara kemungkinan untuk bertindak dan bertingkah laku.Hal ini mengajak konseli untuk lebih bersikap praktis .Umpamanya,konselor menanyakan ,”Apakah yang ingin anda lakukan jika anda ingin mengubah tingkah laku anda ?atau “anda merasa kecewa terhadap cara anak-anak anda bereaksi terhadap anda, 

2.       Menuguhakan Hasrat Untuk Melakukan Sesuatu
Keinginan yang kuat dari konseli untuk  mengubah tingkah lakunya adalah satu faktor penting dalm konseling.Yang paling penting iyalah jika konsele memilih dan menetapkan sendiri tujuan yang ingin di capainya akan memungkinkan dia mau bekerja keras untuk mencapai tujuan tersebut.Bagi konselor yang telah mengembangkan hubungan kerja yang baik dengan konseli tidak perlu merasa ragu-ragu memberikan saran –saran sebagai suatu usaha untuk meningkatkan cara berpikirnya. Dia harus memastikan bahwa dia berjanji dengan sungguh-sungguh kepada dirinya sendiri untuk mencapai tujuan yang di inginkannya.
Dan dengan demikian dia pula menerima tanggung jawab.
Konselor hendaknya memberikan perhatian sepenuhnya terhadap usaha meneguhkan janji konseli pada dirinya sendiri,Keterampilan mengarahkan di perlukan untuk meyakinkan konsele ang mudah putus asa dan menampakan sikap membiarkan dirinya sendiri menjadi korban itu,Tanpa terlalu mendesak konselor hendaknya dapat memberikan suatu contoh yang telah di pilih dengan seksama menggunakan bahasa  sehari-hari menyebukan bagian-bagian secara yang kelihatannya dekat dengan konseli.


3.       Menghadapi Apa yang akan terjadi
       Setelah konseli menjadi teguh dengan hasrat untuk mencapai tujuan khusus tertentu,Tugas konselor selanjutnya adalah membantu konseli membuat rencana yang mantap tentang bagaimana ,kapan,dan di man proses pengubahan tingkah laku akan benar-benar di mulai.Konseli harus di sadarkan bahwa banyak faktor yang ikut mempengaruhi keberhasilan usahanya,Salah satu faktor yang perlu di ingat adalah pentingnya melaksanakan kegiatan hanya pada suasana yang benar-benar mengandung kemungkinan keberhasilan yang besar.
       Segala sesuatunya harus direncanakan dengan hati-hati.Konseli harus di bantu untuk memilih waktu yang tepat yang sebaiknya untuk memulai kegiatan,memutuskan dengan tepat apa yang hendak dikatakan dan di pebuat ,membayangkan keinginan-keinginannya yang menyangkut perasaan dan kesan-kesannya.
Konselor juga hendaknya berusaha meningkatkan yang berat sekalipun,Kemungkinan kegagalan juga harus didiskusikan karena tidak mungkin bagi konselor untuk menjamin keberhasilan dari apa yang di rencanakan itu.Di samping penekanan di letakkan pada aspek-aspek positif dan perencanaan untuk keberhasilan,konseli hendaknya juga di dorong untuk memikirkan bahwa kalaupun dia menemui kegagalan hal itu tidaklah akan merugikan bagi dirinya.melainkan sebagai peringatan untuk membuat rencana-rencana yang lebih baik yang akan di laksanaka pada kesempatan berikutnya.


4.       Menilai Hasil
    Segera sesudah konseli melaksanakan rencana pengubahan tingkah lakunya konselor hendaklah membicarakan pengalaman itu dengan konseli,Faktor-faktor yang ikut memberikan andil terhadap keberhasilan yang dicapai hendaknya di kenali supaya konseli merasa tergugah untuk melakukannya lagi.

5.       Membuat Catatan
Membuat catatan merupakan suatu usaha sederhana tetapi sangat penting karena kegiatan ini mempunyai andil besar di dalam rencana pengubahan tingkah laku.
Konseli yang merasa dia belum banyak melakukan hal-hal yang di inginkan perlu di dorong untuk mencatat kegiatan harinyanya di dalam sebuah buku harian.
Orang tua yang mengeluh tingkah laku anak-anaknya,atau guru yang di pusingkan oleh murid-muridnya yang sukar di atur,perlu di bantu untuk mengorganisasikan suatu sistem pencatatan yang dapat merekam apa yang terjadi sebelumnya dan sesudah berlangsungnya suatu peristiwa,dan bagaimana seringnya peristiwa itu terjadi.


B. TEKNIK-TEKNIK KHUSUS
Seringkali konselor sering membantu konseli untuk mencobakan beberapa cara bertingkah laku .
Hal ini dapat di lakukan dengan berbicara dengan konseli dan dapat juga dengan mengajarkan kepadanya tingkah-tingkah laku baru yang dapat di latihakan selama konseling dan dalam kegiatan sehari-hari.
1.Menggunakan Ganjaran
Banyak perhatian di tunjukan untuk mengungkapkan cara-cara merubah tingkah laku orang dalam berbagai suasana dengan cara sistematik mengubah hubungan (asosiasi)antara suasana (kejadian) dan tingkah laku tertentu.Istilah umum yang di oakai untuk cara pengubahan tingkah laku seperti ini ialah penguatan yang menunjuk cara dalam seseorang dapat menningkakatkan atau mengurangi kemungkinan terjadinya perubahan –perubahan tertentu .Sebagaimana kaedah umum,tingkah laku yang secara tetap dan segara diikuti oleh pengalaman-pengalaman yang menyanangkan cenderung untuk diulangi.Tingkah laku seperti itu dikatakan diganjari untuk dikuatkan secara positif.Pada sisi lain,tingkah laku yang di abaikan atu di ikuti oleh hal-hal yang tidak menyanangkan cenderung berkurang kemungkinan untuk di ulangi.

Konselor harus bisa membantu konseli merencanakan perubahan tertentu berdasarkan atas hasil pengamatan yang cermat.penggabungan antara pengganjaran tingkah laku yang di inginkan dan pengabaian tingkah laku yang tidak sesuai merupakan cara yang sangatampuh,walaupun hal itu mungkin tidak cocok bagi setiap masalah.Namun cara ini telah di capai secara luas :masalah yang muncul dalam kelompok,hubungan keluarga,dan dalam suasana pengawasan dan latiha serinkali dapat di atasi dengan pengubahan penguatan tertetu.
Teknik-teknik yang di gunakan dalam memulai dan mengembangkan tahap-tahap konseling kebanyakan mengandung aspek-aspek ganjaran.
        Teknik konseling sederhana yang mengandung komponen-komponen ganjaran yang kuat merupekan keterampilan yang tepat untuk mengganjar konseli tertentu.Misalnya konseli yang kurang pandai menyelenggarakan pembicaraan sengan orang lain(dapat di ajar konselor)bagimana memperhatikan pembicaraan orang lain,Jika di gunakan dalam suasana hubungan sosial maka keterampilan memperhatikan pembicaraan orang lain ini berlaku sebagai ganjaran bagi seorang pembicara yang di tugaskan untuk memberikan tanggapan terhadap pembicara lainnya.konseli hendaknya didorong untuk berlatih sendiri untuk dapat mempunyai keterampilan seperti itu dan melaporkan(kepada konselor)hasil yang di capainya.Demikianlah,keterampilan memberikan tanggapan dalam pembicaraan dapat bernilai sebagai keterampilan-keterampilaan sosial pada umumnnya.

2.       Memberikan Contoh
Konselor perlu memberikan contoh atau pola tingkah laku yang baik untuk konseli yang tidak mengetahui bagaimana bertindak dalam suasana tertentu.Dlam hal ini pemberian contoh pada umumnya ditampilkan dalam 2 cara :yaitu onselor sendiri dapat bertindak sebagai model atau seorang kawan(dari konseli)dapat bertindak sebagai model dalam kehidupan konseli sehari-hari.

Beberapa prinsp pemberian contoh yang efektif dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.       Suruh konseli bagaimana biasanya dia bertindak dan berbuat.
2.       Pertunjukan cara-cara bertindak yang lebih efektif.
3.       Pisahkan bagian-bagian itu untuk diamati,didiskusikan dan dipraktekan.
4.       Ulangi lahi mempertunjukan beberapa kali melebih lebihkan (menekankan)bagian-bagian yang menyababkan kesulitan.
5.       Suruh konseli melakukan lagi tingkah laku yang sudah diamatinya.Berikan balikan yang berguna bagi konseli.
6.       Lanjutkan terus melakukan tingkah laku itu berulang-ulang semapai di capai  atau tingkah laku yang seharusnya.

3.       Bermain Peran
Bermain peran adalah memerankan cara seseorang bertingkah laku dalm suatu jabatan atu fungsi tertentu.


4.       Kesadaran Bdaniah ,Latihan Penenangan ,dan Gerak Badan
Sebagai bagian dari proses pengubahan tingakah laku adalah sangat membantu bila orang yang bersangkutan,lebih sadar dan dapat mengendalikan kesan-kesan badaniah.Kesadaran yang dipertinggi dapat membantu konseli mengenali perasan-perasaannya secara lebih tepat.Ambillah misalnya seorang konseli  merasa kekanak-kanakan atau kalau berbicara merendahkan diri.

5.       Memikirkan dan Membayangkan Sesuatu
Salah satu keterampilan yang penting dalam konseling adalah bagaimana konseling dapat bekerja secara baik dengan kegiatan mental konseli. Pikiran, ide, dan penghayatan konseli jelaslah amat penting dalam keseluruhan upaya konseling. Salah satu contoh yang baik tentang penggunaan kegiatan “membayangkan sesuatu” adalah dalam latihan penenangan.

6.       Desensititasi
Penderkatan ini dimaksudkan untuk mengubah tingkah laku melalui perpaduan beberapa teknik yang terdiri dari memikirkan sesuatu. Menenangkan diri dan membayangkan sesuatu. Dalam hal ini konselor berusaha memberikan suntikan bagi konseli untuk menanggulangi kekuatan ataupun kebimbangan yang mendalam dalam suasana tertentu. Konselor melakukan teknik ini dengan memanfaatkan ketenangan jasmaniah konseli untuk melawan ketegangn jasmaniah yang timbul bila konseli berada pada suasana yang menakutkan atau menegangkan.

7.       Memadukan berbagai strategi
Desensititasi merupakan teknik yang melibatkan beberapa keterampilan konseling. Jika konselor telah menguasai secara terpisah-pisah keterampilan konseling dan proses pengubahan, konselor diminta untuk memadukan bila hal itu merasa cocok.


C.  Mengakhiri Pertemuan
Konselor hendaknya selalu menyadari bahwa mengakhiri suatu hubungan konseling dengan melalui alih tangan atau penghentaian layanan memerlukan prosedur dan pemenuhan persaratan tertentu.
1.       Alih tangan (referal)
Jika konselor memutuskan bahwa konselingnya memiliiki kebutuhan-kebutuhan yang tidak dapat dipenuhi oleh konselor, maka konselor harus mempertimbangkan unuk mengalih tangan konseli kepada orang atau badan lain

2.       Penghentian Layanan
Penghentian layanan (terminasi) pada setiap waktu terutama bilamana tujuan-tujuan hubungan konseling telah tercapai. Penghentian juga dapat dilakukan berdasarkan persetujuan yang telah ditetapkan pada permulaan pertemuan, yaitu setelah pembebasan suatu atau beberapa pokok masalkah atau setelah beberapa kali pertemuan. Disamping memperkirakan kemampuan konseli untuk mengatasi masalahnya sendiri, konselor hendaknya mengnali reaksi-reaksinya sendiri.































BAB III
PENUTUP

A.Kesimpulan
Dari pembasahan di atas bahwa dalam penanganan konseli itu mempunyai beberapa teknik dan setiap teknik mempunyai fungsi masing-masing dalam pengubahan tingkah laku klien .konselor dalam mengubah tingkah laku klien ia harus mempunyai suatu kesabaran dan keahlian khusus.dan ia juga harus mempunyai suatu ide-ide yang dapat membantu perkembangan kliennya.





































DAFTAR PUSTAKA



Mulyana,Deddy,M.A.PhD.ilmu komunikasi.Penerbit Remaja Rosdakarya Bandung.


W.S.Winkel dan Sri Hastuti.Bimbingan dan Konseling di insitusi kepenidikan .Penerbit Media Abadi Yokyakarta.


Supratiknya A,Drs .Komunikasi Antar Pribadi. Penerbit  Kanisius Badung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Soal kepribadian bk

    Jawablah pertanyaan-pertanyaan dibawah ini dengan positif (+) bila sesuai dengan anda, atau negatif (-) bila tidak sesuai dengan anda....